Penjarahan Hutan yang Dilakukan oleh Serikat Petani Pasundan (SPP)

Penjarahan Hutan yang Dilakukan oleh Serikat Petani Pasundan (SPP)
Akibat Penjarahan SPP

Senin, 09 Februari 2009

LAGI....Ulah Serikat Petani Pasundan (SPP) Merusak Hutan

Lagi...ulah SPP....
artikel ini diambil dari Surat Kabar Kompas :

Polda Siap Kirim Pasukan ke Tasikmalaya
Ditulis Oleh Kompas
Selasa, 10 Februari 2009
Bandung, Kompas - Kepolisian Daerah Jawa Barat berencana mengirimkan pasukan ke Desa Neglasari, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, terkait dengan konflik penyerobotan lahan Perhutani. Hal ini untuk mengantisipasi bentrok yang mungkin terulang seperti pekan lalu.
"Tapi, kami masih melihat perkembangan situasi dulu. Yang jelas pasukan siap diturunkan dan Polda Jabar siap back-up (pasukan)," papar Kepala Divisi Humas Polda Jabar Komisaris Besar Dade Achmad, Minggu (8/2) di Bandung.
Selasa pekan lalu, terjadi bentrok antara massa yang diduga anggota Serikat Petani Pasundan (SPP) dan penjaga hutan Perhutani. Empat petugas Perhutani dan satu warga buruh tanam menjadi korban penganiayaan.
Saat itu, sejumlah orang mencabuti sedikitnya 400 pohon karet milik Perhutani di Desa Neglasari, Kecamatan Pancatengah. Mereka juga mencabut dan membakar 110 pohon yang baru ditanam. Selain mencabuti pohon, massa yang terdiri dari 300 orang mengeroyok petugas Perhutani. Mediasi
Kepala Kepolisian Wilayah Priangan Komisaris Besar Anton Charlian menjelaskan, pengeroyokan terjadi ketika petugas sedang menanam pohon karet.
Empat petugas Perhutani dan satu buruh tanam terluka. Salah seorang korban adalah Ahmad Haerul Saleh (45), Kepala Resor Polisi Hutan Cikatomas.
Dade mengatakan, laporan dari warga yang disampaikan kepada polisi menjelaskan bahwa aksi anarki tersebut didalangi sekelompok orang yang mengatasnamakan SPP. Saat ini, SPP, Perhutani, dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sedang menggelar mediasi untuk mencari pemecahan. Jika mediasi yang digagas Polres Tasikmalaya ini tidak menemukan jalan keluar, Polda Jabar akan mengirimkan pasukannya. Administratur Perhutani/KKPH Tasikmalaya Taufiek J Dwi Rahardjo mengatakan, situasi di lapangan saat ini relatif aman. Sebab, semua pelaku yang diduga terlibat dalam perusakan pohon sedang ditangani Polres Tasikmalaya.
Kepala Humas Perhutani Unit III Jabar dan Banten Ronald Suitela menuturkan, pihaknya siap bersinergi dengan kepolisian dalam pengamanan hutan. Selama ini hutan telah diserobot warga yang sebagian mengaku sebagai anggota SPP. Padahal, hutan harus dijaga dan tidak bisa dijadikan milik pribadi.
Menurut Ronald, di lapangan selalu ada pihak yang sengaja mengajak warga merusak hutan. "Saya menyesalkan kejadian Selasa lalu itu. Ini yang perlu ditangani. Kami sebisa mungkin menggunakan pendekatan persuasif, bukan represif," ujarnya.
Sementara itu, tiga pengurus SPP, yakni Agustiana, Ibang Lukmanurdin, dan Yudi Kurnia, belum bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi. Telepon dan pesan singkat Kompas tidak dibalas. (MHF)

1 komentar:

Alas Wong mengatakan...

Memang SPP tukang provokator, biang perusak hutan...